Kemilau Cinta Kamila : Bad experience



Gara-gara isteri saya suka sinetron Kemilau Cinta Kamila, jadi deh saya ikut-ikutan nonton sinetronnya. Pada episode pertama memberikan pengalaman cerita yang menarik bagi hati saya. Sampai saya bilang "Wah..!! asyik juga nih sinetron bu.." Hingga pada akhir episode pertama yang membuat saya berpikir seperti biasa... "ending ceritanya mengambang, pasti akan ada sekuel keduanya". Kisah kasih Kamila, Fadil dan Edo belum selesai.



Eh... ternyata benar..! Episode kedua lebih seru, dengan cerita yang makin mengembang. Edo hilang lalu muncul lagi dan menyamar sebagai Andreas Gunawan. Kemudian cerita terus bergulir.

Lalu... muncullah 'story part' yang cukup membuat dahi saya mengerenyit, lalu kecewa.

Tante Marta, mama si Edo, benar-benar tidak mengenali bahwa Andreas adalah Edo. Hal aneh, sangat aneh..! Tapi... ya... selanjutnya saya ikuti saja ceritanya, meskipun sudah tidak nyaman lagi bagi logika saya bekerja.

Pikiran saya menjadi lebih berat lagi berlanjut di sekuel ke-tiga. Ini bahkan lebih parah dari sekuel kedua. Tindakan Taufan (saudara kembar Fadil) yang diperankan oleh Jonas Rivano menyaru sebagai Fadil yang asli.


Nyonya Ambar (ibu si kembar), menurut saya benar-benar tidak mempunyai naluri sebagai seorang ibu. Biar pun anak kembar identik, seorang ibu pastilah bisa membedakan mana anaknya satu per satu. Lebih-lebih Kamila. Saya sampai menjadi piktor (berpikiran kotor) : seandainya Taufan bejat dan mengambil keuntungan terhadap Kamila, tetap saja Kamila tidak tahu..??? Padahal dari sekuel pertama digambarkan sepertinya keluarga ini mempunyai tautan naluri yang kuat, dibuktikan dengan : "Aduh... tiba-tiba perasaanku kok nggak enak..." (sambil memegang dada).

Benar-benar mengesalkan! Jelas-jelas pengarang cerita atau penulis naskah, benar-benar tidak melakukan observasi yang mendalam terhadap karangannya. Beberapa insiden dan kejanggalan (sampai munculnya microphone di episode sebelumnya) masih bisalah saya terima. Tapi, jika inti ceritanya yang ngawur... wah... rasanya kok jadi malas nonton lanjutannya ya....

Padahal pemeranan yang dilakukan oleh semua pemeran sudah sangat bagus. Pembangunan karakter oleh Asmirandah, Jonas, Marcel yang kemudian digantikan oleh Mischa, Ricco Tampatty hingga artis senior Mieke Wijaya (salah satu favorit saya untuk peran antagonis) sudah optimal. Patut saya acungi jempol dan 'five star' untuk mereka.



Mohon... di revisi ulang naskah selanjutnya, dan jadikan tetap menarik dan selalu ditunggu sekuel-sekuel selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan menuliskan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Komentar yang menyinggung masalah SARA akan dihapus.